Sebuah Keputusan : Berawal dari Impian
Oleh : Andini
(Mahasiswa Pendidikan Sejarah, FIS-UNY)
Menjadi dewasa tidaklah mudah. Apalagi jika kamu adalah seorang perempuan. Banyak tantangan yang mungkin akan selalu kamu hadapi dalam setiap langkah pencapaian tujuan hidup. Banyak juga yang harus dijalani dan pikirkan dengan matang jika tidak ingin salah langkah. Berbagai peristiwa kerap mengajarkan menjadi manusia yang kuat karena banyak menghadapi pahit manis kehidupan. Apalagi setelah aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Bukan tanpa alasan keputusan itu, kekagumanku pada sosok Ibu Kartini yang sangat peduli akan perempuan dan pendidikan membuatku terinspirasi supaya kelak aku bisa sepertinya dengan menjadi sosok “Kartini Masa Kini” di tengah lingkungan yang masih belum terlalu terbuka perihal perempuan dengan pendidikan tinggi. Dan yang kutakutkan adalah statusku sebagai perempuan membuat langkahku harus sering bergumul dengan stigma-stigma negatif masyarakat yang seringkali memojokan.
Afifah, begitulah orang-orang memanggilku, nama sederhana pemberian bapak dan ibuku. Aku menjalani hidup sebagai anak desa biasa yang jauh dari kata sempurna. Aku sama seperti anak-anak lainnya, menghabiskan waktu untuk belajar, bermain, bersantai, membaca dan mengukir banyak asa dengan harapan suatu saat akan mampu meraihnya. Tumbuh dalam balutan kesederhanaan dan keterbatasan tak membuatku tidak berani untuk bermimpi yang tinggi. Meskipun bermimpi itu sebenarnya mudah tapi bukanlah sebuah mimpi jika kita berharap mudah untuk mendapatkannya, karena mewujudkan mimpi juga sangat membutuhkan perjuangan.
Yah, aku adalah seorang anak perempuan dengan banyak mimpi dan ambisi. Salah satu mimpiku yaiu kelak aku berharap menjadi seseorang yang menginspirasi. Aku anak tunggal yang terlahir dari orangtua berasal dari desa kecil yang hanya lulusan SMP, tapi kedua orangtuaku sangat sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka adalah orang paling hebat dalam hidupku. Mereka tak pernah berhenti bekerja keras untuk mencukupi kebutuhanku. Merekapun berharap aku mampu mengenyam pendidikan tinggi. Dan benar, meskipun dengan jalan tidak mudah saat ini aku sudah menjadi seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang sebentar lagi akan wisuda. Padahal dulu selepas lulus SMA, aku sempat ragu dan dilema apakah harus kuliah atau tidak. Aku sempat khawatir dengan biaya, akan tetapi dari informasi-informasi yang aku terima sudah banyak anak kurang mampu yang bisa melanjutkan kuliah dengan bantuan beasiswa penuh dari pemerintah. Aku mengutarakannya kepada bapak dan ibu, di luar ekspektasiku mereka ternyata sangat mendukung keputusanku sampai aku bisa mencicipi bangku kuliah dan hampir saja menyelesaikannya.
Tidak mudah sampai pada titik ini. Perjuangan tiada henti, kucuran keringat dan tangisan kesedihan pernah mewarnai hidupku sepanjang hari demi agar aku bisa melanjutkan kuliah, meskipun harus jatuh bangun untuk mendapatkan beasiswa. Bersyukur Allah selalu menyambut doa dan perjuangan kami sekeluarga. Setelah ribuan kesulitan yang kami hadapi, Tuhan senantiasa membalasnya dengan sesuatu yang tak pernah terkira. Itulah yang membuat kami tak pernah lupa dalam bersyukur bahkan untuk sekecil apapun kebahagiaan yang kami dapat hari ini, membuat kami selalu merasa bahwa Tuhan selalu ada bersama kami. Semua juga berkat bapak dan ibu yang selalu mendukungku, maka dari itu sudah saatnya aku ingin membuat mereka bangga.
Semua lantas tak membuat aku terlena. Bapak dan ibu masih selalu menasehati aku agar kelak menjadi perempuan hebat yang tak hanya berpendidikan tinggi tetapi juga mampu menginspirasi dan memotivasi orang lain. Aku paham mengapa mereka mengharapkan hal itu, akupun berpikiran sama. Setiap manusia pasti memiliki keinginan yang ingin diwujudkan, begitu juga denganku. Untuk mewujudkannya, pasti harus disertai usaha yang keras. Sayangnya masih banyak orang yang mematri pendapatnya bahwa meraih impian butuh modal materi yang besar. Anggapan inilah yang terkadang membuatku yang memang dari segi materi sangat kurang, menjadikan beberapa orang di sekitar memandangku dengan penuh keraguan.
Sebagai orang yang hidup di desa kecil, terkadang masih memandang berpendidikan tinggi tidak perlu menjadi sesuatu yang harus diprioritaskan. Bayang-bayang pendidikan tinggi itu mahal, pendidikan tinggi itu hanya mampu dilakukan orang-orang berada masih terpatri dalam benak masyarakat desa seperti kami. Apalagi bagi seorang perempuan. Aku masih sering mendengar pernyataan orang-orang yang mengatakan bahwa “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, kalau pada akhirnya hanya menjadi seorang istri yang kerjanya ya cuma di rumah mengurus anak, belum lagi biayanya. Apa tidak kasihan sama orangtua, kuliah paling cuma buat gaya-gayaan”. Tanggapan-tanggapan miring seperti itu memang masih sering terdengar dari lingkungan sekitarku. Tanggapan yang bukan seperti anggapan biasa namun memang sudah sangat mengakar. Mau dirubah juga tidak mudah, yang perlu dilakukan adalah sebuah pembuktian. Aku hanya ingin mewujudkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan tanpa mengenal latar belakang. Aku juga hanya ingin membahagiakan dan membanggakan bukan untuk gaya-gayaan seperti yang beberapa orang bilang.
Setelah berbagai pertimbanagan, tanpa ragu aku putuskan. Semua berawal dari harapan-harapan dan impian yang selalu kusemogakan kelak berbuah kenyataan. Berbekal tekad yang kuat dan dukungan dari orangtua, ternyata nasib baik memang selalu mengikuti orang yang kukuh akan pendiriannya. Tanpa memperdulikan lagi apa kata orang, aku memberanikan diri mengabil keputusan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Dan menyandang status baru sebagai seorang mahasiswa. Awalnya banyak hal yang harus kulakukan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Jika sebagian dari mahasiswa berstatus kaya, masa kuliah adalah ajang bergaya, hura-hura, shopping belanja, liburan, fashionable dan serba modis dalam berpenampilan berbeda sekali denganku yang tetap sederhana dan apa adanya. Terkadang memang sulit, mempertahankan kekokohan diri di tengah terpaan berbagai godaan. Jika pikiran-pikiran itu muncul dan menganggu, lekas aku menepisnya, karena sesungguhnya tujuanku hanyalah untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, bukan untuk hal yang lain.
Meski telah berjalan sejauh ini, langkah kehidupanku tak berjalan mulus begitu saja. Berbagai peristiwa-peristiwa tak terduga seringkali menghampiri, menimpa tanpa permisi. Salah satunya ketika aku kehilangan salah satu orang yang paling aku cintai, yaitu bapak. Di tengah kesibukanku di akhir-akhir masa kuliah sungguh ini sebuah cobaan datang tanpa terduga. Pada suatu hari aku mendapat kabar bahwa bapak telah tiada.
Dengan gontai aku melangkahkan kakiku kembali pulang. Rasanya sapaan alam hari itu terasa lain. Pekatnya pagi lebih menyerupai malam yang gelap. Begitupun saat sore menjelang ketika aku bersama rombongan orang-orang menghantarkan bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya. Guratan senja yang tak seperti biasanya, bak lukisan penuh nestapa disertai gerimis bak rintik kepedihan. Kulihat beberapa orang memandangku dengan pandangan yang tak biasa, sambil berbisik-bisik seperti ada hal yang mereka bicarakan tentang diriku. Rasanya ingin ku datangi mereka, ingin marah karena dalam keadaan seperti ini sungguh tidak menyenangkan apa yang mereka lakukan. Tapi ya sudahlah, bukankah dalam berbagai kesempatan aku sering menerima perlakukan demikian. Tapi yang membuat hatiku perih teriris adalah aku terbayang bagaimana wisudaku nanti tanpa ada bapak di sisi sebagai salah satu orang yang selalu menguatkanku selama ini. Ya Allah haruskah secepat ini, mampukah aku, kuat dan ikhlaskanlah hatiku jika Engkau memiliki rencana lain yang belum mampu kupahami.
“Kamu tidak boleh putus asa Nak, kamu anak bapak perempuan yang hebat, kerjar mimpimu sampai dapat.” begitulah kata-kata saat terakhirku bertemu bapak sebelum beliau pergi meninggalkan aku dan ibu untuk selamanya. Kata yang selalu terngiang sekaligus menjadi motivasi ampuh supaya aku terus berjuang mengejar asa dan cita-cita. Apapun akan aku lakukan untuk membuat bapak dan ibu bangga. Aku tidak mau sekalipun membuat mereka kecewa.
Malam ini aku duduk termenung sendiri di teras rumah sederhanaku. Rasanya aku kehilangan penyemangat sampai aku menjadi bingung ingin berbuat apa dan melakukan apa. Tiba-tiba beberapa meter dari pagar rumah sesosok perempuan muda yang tengah mengandung tua menghampiri aku yang tengah duduk sendiri. Aku yang masih melamun merenung tak sadar ketika ternyata ia sudah duduk di sampingku.
“Aku tahu Af yang kamu rasakan saat ini, aku pernah mengalaminya.” suara yang sepertinya tak asing lagi di telingaku. Aku menoleh, rupanya Fatma sahabatku semenjak masih bocah. Ya, kami dulu sering bersama dari masih bocah sampai akhirnya sama-sama lulus sekolah. Hanya saja saat ini aku lanjut kuliah sedangkan ia yang tidak kuasa menolak keinginan orangtuanya untuk segera menikah, membuat keadannya saat ini berbeda denganku. Padahal kami pernah bermimpi tentang banyak hal dan selalu memberi semangat satu sama lain untuk mewujudkanya. Sayang, mimpi ku dan mimpinya terhenti ketika ia tak lagi punya pilihan selain menuruti keinginan keras orangtuanya.
Fatma adalah salah satu potret perempuan yang memiliki banyak potensi tetapi beberapa faktor menghambatnya untuk mewujudkan mimpi. Yah mau bagaimana lagi, untuk ukuran orang desa seperti kami terkadang belum memiliki cara berpikir progresif, masih kolot dan belum mau terbuka pada hal-hal baru sesuai perkembangan zaman yang semakin modern.
Malam itu aku dan Fatma banyak sekali bercerita dan bernostalgia, mengingat kembali masa-masa ketika hidup hanya tentang bermain, sekolah, mengerjakan PR, dan banyak hal yang lumrah dilakukan anak kecil. Ternyata kehadirannya bisa sedikit mengembalikan secercah kebahagiaan melalui ingatan masa lalu. Kulihat perut Fatma yang ternyata sudah begitu besar.
“Jadi, sudah berapa bulan kandunganmu Fat?” tanyaku
“36 minggu Af, ya mungkin masih menunggu 2 atau 3 minggu lagi.” Fatma sempat terdiam lalu kemudian berkata lagi, “Beruntung kamu ya Af, sebentar lagi jadi sarjana, aku pernah bermimpi sepertimu tapi sayangnya nasib tidak memihakku sampai akhirnya aku malah jadi seperti ini.”
“Astagfirullah, kamu jangan bicara begitu Fat, kamu juga seharusnya bersyukur sebentar lagi kamu akan menjadi ibu. Kamu tahu Fat, menjadi seorang ibu adalah anugerah seorang perempuan, menjadi ibu adalah sebuah kesempurnaan bagi perempuan, hadiah terbaik dalam hidup yang diberikan Tuhan. Bersyukurlah Fat, mungkin aku malah belum tentu bisa menjadi sepertimu, karena umur manusia itu ya siapa yang tahu. Seperti bapak misalnya, siapa sangka bapak akan pergi begitu cepat tanpa sempat aku membahagiakannya.” kataku sambil menunduk penuh kesedihan.
“Kamu benar Af, aku bangga sama kamu, terkadang aku begitu salut dengan pola pikirmu, kamu benar-benar perempuan yang hebat. Kuharap akan ada banyak perempuan sepertimu di desa kita ini, perempuan dengan pola pikir sepertimu akan membuat sebuah negeri maju karena mampu menginspirasi yang lain”
“Ahhh kamu berlebihan Fat.” kami tersenyum bersama sampai tak terasa malam sudah larut.
“Astaga Af, sudah malam ternyata aku harus pulang takut Mas Anto khawatir, soalnya tadi aku pamitnya cuma ke warung sebentar, tapi karena tadi aku liat kamu sendirian aku jadi tidak tega makanya aku samper. Yasudah ya Af, aku pulang dulu.”
“Cieee enak deh ya ada yang khawatirin.” tawa kami kembali lepas, dan Fatmapun melangkah pergi, aku memandangnya sampai tak terlihat lagi.
Selepas Fatma pergi aku masuk ke dalam rumah. Ku ambil laptop yang sudah hampir 4 tahun ini menemaniku menyelesaikan segala urusan tugas kuliahku. Sedikit cerita, untuk membelinya saja dulu butuh perjuangan sekali, bapak sampai harus menjual beberapa kambing peliharaan kami. Padahal bagi orang desa seperti kami, hewan peliharaan merupakan aset yang sangat berharga. Meskipun saat aku dibelikan oleh bapak laptop ini sudah tidak dalam keadaan yang baru, tapi dari awal kuliah sampai sekarang menjelang selesai kuliahku laptop ini tetap setia dan selalu dalam keadaan baik-baik saja. Yah, mau bagaimana lagi, tekad untuk tetap melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, ditambah dukungan dari ibu dan bapak seringkali membuat kami harus banyak berkorban dan bekerja lebih keras lagi. Sayangnya, saat ini raga bapak sudah tidak ada lagi di sisi, tapi doaku selalu kupanjatkan kepada Allah supaya bapak senantiasa bahagia di surga. Ah, aku jadi bernostalgia. Kulihat wajah ibu yang tertidur lelap, wajahnya penuh kelelahan dan kesedihan. Tapi di depanku ia selalu terlihat tegar. Ibulah yang menjadi penyemangatku satu-satunya saat ini. Aku kumpulkan kembali semangatku yang terkadang hilang dan hancur berkeping-keping, memantapkan segala niat untuk mengejarkan tugas akhirku yang akan selesai sebentar lagi. Karena aku ingin segera lulus, memasuki babak baru kehidupan dan mewujudkan impian-impianku. Demi ibu, perempuan hebatku.
Berbagai dinamika, cerita serta drama-drama mahasiswa akhir yang selalu dibayangi tugas akhir dan skripsi satu per satu hampir selesai sudah. 6 bulan setelah berkutat dan berlelah-lelah dengan skripsi dan tugas akhir. Legalah hatiku ketika tali toga itu berpindah dari kiri ke kanan. Tangis ibu pecah kala menyambutku turun dari podium wisuda. Di tengah wisudawan lawan lain yang merayaka kebahagian ini dengan keluarga besarnya, kami hanya berdua saja. Ya, diantara mereka kami hanya dua perempuan dengan balutan busana yang bersahaja. Tidak adanya bapak di sisi kami terkadang sering menyisakan rasa pilu tersendiri. Tapi aku dan ibu selalu berharap bapak juga turut bahagia melihat kebahagiaan kami hari ini. Yang terpikirkan kini adalah apa yang bisa aku lakukan di masa mendatang setelah aku benar-benar lulus sebagai seorang sarjana dalam bidang ilmu psikologi. Sebenarnya peluang dan kesempatan kerja sangatlah banyak serta tak terbatas. Hanya saja aku ingin menjadi yang berbeda. Sebagai seorang perempuan di zaman modern seperti sekarang ini, sudah seharusnya perempuan bisa tampil dengan peran yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman yang sibuin meningkat.
Aku mengajukan lamaran di beberapa lowongan pekerjaan seperti staff HRD suatu perusahaan dan guru BK di beberapa sekolah. Sambil menunggu pengumuman diterima atau tidaknya, kumanfaatkan waktuku untuk menulis. Aku senang menuliskan banyak hal, aku berharap suatu saat tulisanku akan menjadi sebuah buku karya yang bermanfaat. Selain itu aku juga menerjemahkan buku-buku psikologi berbahasa asing, ini sangatlah menarik. Dari sini sedikit demi sedikit aku mampu mengumpulkan uang guna bertahan hidup untuk diriku sendiri dan sedikit menyisihkan uang untuk kebutuhan ibu. Selain itu aku juga sering diminta untuk memberikan les secara privat kepada anak-anak SD, SMP, dan SMA, mengajar anak-anak mengaji di masjid dan masih banyak lagi. Semua aku lakukan selama itu menghasilkan yang halal dan baik, dan aku sangatlah senang. Bahkan hidupku jauh dari kata bosan, kunikmati tiap detiknya meski banyak keterbatasan.
Aku senang sekali membaca berita. Setiap hari aku ada saja yang kubaca, entah itu berita online maupun berita dari koran atau tabloid. Seringkali ketika membaca berita khususnya anak muda, hatiku membatin penuh keheranan dengan berbagai tingkah anak muda jaman sekarang, terkhusus kaum perempuan. Media sosial dari hari ke hari hanya dipenuhi galauan ria tentang apalagi kalau bukan masalah cinta dan romansa. Padahal sebagai remaja memiliki tugas perkembangan diantaranya adalah melakukan perencanaan karir dan berperan dalam lingkungan sosial. Dari sini aku mulai berpikir dengan ilmu yang aku dapatkan selama kuliah bisa aku gunakan untuk berbagi agar memberikan dampak positif kepada ligkungan sekitar, kepada anak-anak muda untuk selalu semangat meraih cita-cita.
Aku teringat, semasa awal kuliah aku sempat berkenalan dengan Mbak Nadiya salah satu dosen muda dimana mahasiswanya lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Mbak. Selain dosen ia juga seorang motivator untuk anak-anak didiknya yang sebagian besar adalah mahasiswa perempuan. Akupun menjadi salah satu anak bimbingannya. Mbak Nadiya sangat dekat dengan anak-anak didiknya. Dalam forum ini, kami sering berdiskusi banyak hal tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan, bagaimana memainkan peran sebagai seorang perempuan dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, tentang mimpi, cita-cita dan harapan, dan masih banyak lagi.
Selain memberikan motivasi kepada mahasiswa, Mbak Nadiya juga sering diundang dalam berbagai kesempatan acara motivasi kepada anak-anak sekolah, ibu-ibu muda, perempuan-perempuan desa dan masih banyak lagi. Ia juga banyak menulis banyak buku khususnya tentang perempuan dan perannya di zaman sekarang. Pembawaannya yang lembut, ramah dan sopan membuatnya mendapat tempat di hati banyak orang. Aku banyak belajar darinya, bagiku dialah potret perempuan modern yang tidak hanya cerdas tapi juga menginspirasi. Dialah sosok “Kartini Masa Kini” dengan banyak peran yang disandangnya, sebagai seorang ibu, istri, dosen, dan motivator yang sering diundang kesana kemari. Semua dilakoninya dengan begitu seimbang.
Suatu ketika, Mbak Nadiya mengirimkan pesan kepadaku. Ia mengabarkan bahwa ia sedang sakit, padahal ia harus mengisi sebuah seminar motivasi kepada siswa-siswi SMA di sebuah sekolah. Yang membuat aku terkejut adalah, ia memintaku menggantikannya. Dengan sedikit bimbang karena merasa tidak enak hati dan belum mumpuni, akupun mau menerima tawaran itu dan berjanji akan melaksanakan amanah itu tanpa ragu. Dan ternyata ini menjadi awal langkahku selanjutnya.
Tibalah aku di panggung pertamaku, dimana aku harus berhadapan dengan puluhan orang yang belum ku kenal sama sekali sebelumnya. Kutarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara, tentang semua yang pernah kurasakan dan kualami. Aku melihat wajah-wajah polos di depan mataku ini adalah gambaran masa depan cerah bangsa ini kelak.
“Jangan berpikir hanya karena kita masih muda, kita tidak bisa melakukan sesuatu lalu berhenti untuk melangkah maju. Bercita-citalah yang tinggi selama masih sanggup bermimpi, karena itu adalah keindahan berpikir manusia. Lakukan segala sesuatu yang ingin kau lakukan, karena disitulah letak sebuah kekuatan. Yakinkan diirmu menguji batas keyakinan, karena disitulah keberanian untuk menjemput kesuksesan.” Kira-kira begitulah pesan yang sering kusampaikan kepada anak-anak muda masa kini yang kutemui.
Yah, selesai sudah semua berjalan lancar tanpa halangan. Lama-kelamaan akupun merasakan kenyamanan. Nyaman dengan yang aku lakukan sekarang. Melihat seseorang yang awalnya sudah putus asa dengan dirinya sendiri kembali bersemangat menggapai mimpi adalah hal yang sangat menyenangkan. Semua ini semata-mata kulakukan bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk memperbaiki para generasi supaya kelak mampu memajukan bangsa ini.
Dua tahun sudah aku menikmati pekerjaanku sebagai seorang motivator yang sering mengisi acara kesana-kemari dan juga sebagai seorang guru Bimbingan dan Konseling di salah satu sekolah menengah atas. Kebetulan saat itu lamaranku sebagai guru BK ternyata diterima. Hal itu tak lantas membuatku nyaman terus menerus berada di kota yang jauh dari desa. Setelah waktunya ku rasa tepat, aku ingin kembali pulang dan berencana menetap kembali di desa. Karena aku merasa ada banyak hal yang bisa kulakukan di sana. Aku juga memutuskan untuk pindah mengajar di sekolah pedesaan. Ku harap aku bisa diterima.
Di sana nanti aku sudah memiliki banyak rencana yang akan aku lakukan. Sesampainya di desa tempat kelahiranku itu, aku memulai membuat kegiatan yang meskipun dalam taraf yang kecil bisa melibatkan anak-anak muda sehingga dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki serta semangat melakukan kebaikan. Aku mengajak mereka melakukan berbagai hal yang tentunya bermanfaat seperti pengolahan sampah, pengajian dan kajian rutin, menanam berbagai macam tanaman sayuran, toga dan masih banyak lagi. Tak jarang pula aku dijadikan teman curhat saat mereka menghadapi beberapa masalah dalam keluarga maupun pembelajaran di sekolah. Dan hal itu sedikit demi sedikit mengembalikan tempat ku sebagai salah satu bagian dari orang-orang di desaku yang dulu sempat hilang. Mereka yang dulu mengatakan aku orang sombong, gengsian atau apalah itu mulai hilang dan terlupakan. Kini aku hadir dengan wajah dan peran yang berbeda dan bersyukur mereka mampu menerimaku. Aku juga diterima kembali menjadi seorang guru BK salah satu sekolah negeri di desaku, meskipun tidak tetap dan dengan tempat dan gaji yang lebih kecil dibanding ketika aku masih mengajar di kota tapi tak masalah. Karena aku mencintai profesiku bukan sekedar karena imbalan tapi ada niat yang lebih besar yaitu untuk beramal dan membantu sesama. Sesekali aku juga masih sering ke kota jika ada undangan untuk mengisi berbagai acara motivasi. Karena di sana aku mendapat kepercayaan di beberapa lembaga jika sewaktu-waktu diminta menjadi pembicara mengisi sebuah acara. Semua itu berkat Mbak Nadiya, yang selalu mengajariku banyak hal tentang ini. Dia yang memang sudah memiliki banyak jaringan dan relasi sering merekomendasikan diriku. Berkat jasanya, aku merasa memiliki dunia baru dan semakin luas pula pengetahuanku.
Bisa dikatakan aku terlalu menikmati kehidupanku yang sekarang. Kadang aku seringkali merasa hidupku ternyata sunyi, meskipun masih ada ibu yang selalu ada di sisiku sampai saat ini di kala usianya yang semakin menua, ternyata memang ada sesuatu hal yang kulupakan. Sampai akhirnya aku dan ibu terlibat dalam sebuah percakapan yang agak serius.
“Ibu sudah sangat bahagia melihatmu seperti sekarang ini, tapi apakah kamu akan terus menerus seperti ini?”
“Maksud ibu? Aku bahagia kok Bu, menjalani kehidupanku yang sekarang. Aku senang bisa hadir kembali diantara orang-orang di desa ini, mengajak melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Aku senang menikmati pekerjaanku sebagai seorang guru. Aku juga tidak lelah Bu, meskipun terkadang banyak undangan pekerjaan dari kota sehingga aku harus bolak-balik desa kota, aku sangat menikmatinya.” kataku sambil memeluk ibu dengan manja, ibu hanya tersenyum melihatnya.
“Ibu tahu, tapi bukan itu maksud ibu Nak, kamu sudah dewasa sebagai seorang perempuan. Apa kamu tidak mau segera menikah, usiamu sudah tepat untuk hal itu.” Sore itu kami terlibat dalam sebuah dialog agak panjang. Untung saja aku sudah memikirkan jawaban yang tepat ketika kapan saja ibu menanyakan hal itu kepadaku. Dan kubiarkan hari hari terus berganti seperti biasanya dengan berbagai aktivitasku. Tanpa terasa hitungan hari telah berubah menjadi hitungan tahun, aku kembali memasuki babak baru sebuah kehidupan dengan peran yang semakin bertambah.
“Perempuan seringkali dipandang sebagai manusia lemah yang harus dilindungi, hal itu membuat sebagaian perempuan bersembunyi di balik kata lemah. Berlindung pada konteks ketidakmampuan fisik yang memang pada kenyataannya tak sekuat kaum laki-laki. Memang, realitanya sebagai perempuan seringkali mengutamakan perasaan dibanding logika., bukan berarti menjadi perempuan adalah makhluk yang manja. Apalagi di tengah zaman emansipasi yang serba modern ini. Menjadi perempuan dengan pendidikan tinggi tidaklah salah, karena menjadi perempuan masa kini haruslah cerdas untuk menghadapi berbagai macam tuntutan perkembangan zaman.”
Sepenggal paragraf yang kubaca dari sebuah tabloid berita dimana aku sendiri yang menjadi narasumber ketika tabloid itu diterbitkan beberapa waktu yang lalu. Tidak disangka ada wartawan yang kala itu menyambagiku, memintaku menjadi narasumber dalam tabloid yang akan mereka terbitkan dengan tema peringatan hari kartini. Mereka yang menganggap aku salah satu perempuan masa kini yang berperan dalam kemajuan sebuah daerah yang tidak lain adalah desaku. Alhamdulillah, satu lagi impianku telah tercapai.
Kuseduh kembali secangkir teh sembari menikmati sejuknya embun pagi. Sampai detik ini aku masih berjuang, langkahku tak akan pernah padam membuat kebaikan, membuktikan kepada dunia kalau perempuan itu mampu membuat banyak perubahan, dalam peran sebagai apapun. Melalui tulisan, perkataan, tindakan dan melalui apapun itu agar pemikiranku dapat tersalurkan, meskipun sekarang aku sudah berganti peran tidak seperti dulu lagi.
“Bunda, Alila berangkat sekolah dulu ya.” Gadis kecil itu mencium tanganku dan ku balas dengan kecupan penuh cinta di keningnya. Ia adalah Alila, putri kecilku, yang kehadirannya membuatku merasa semakin sempurna sebagai seorang perempuan, tentunya karena kehadirannya kini aku bisa merasakan nikmat sebagai seorang ibu. Dari belakang seorang laki-laki dengan pakaian jas rapi mengikuti Alila sambil menggandeng tangan kecilnya.
“Kami berangkat dulu ya Bunda.” ucapnya kepadaku. Kucium tangannya dan ia pun mengecup balas keningku seperti yang kulakukan pada Alila. Laki-laki yang bernama Yusuf itu dulu aku mengenalnya tanpa sengaja ketika aku mengisi sebuah acara motivasi sekitar 7 tahun yang lalu. Siapa sangka juga dia akan menjadi pendamping dalam hidupku, dia pulalah yang kini membuatku semakin sempurna sebagai seorang perempuan yaitu dengan menjadi seorang istri.
Begitulah ketika jodoh sudah digariskan dalam sebuah takdir, maka siapapun tak kan pernah menduga. Inilah hidupku sekarang yang berwarna, berbagai dinamika dan banyak hal tak terduga yang kujumpa.
Aku sadar, menjadi perempuan hebat tidak selalu harus menjadi orang yang dikenal banyak orang. Tapi sederhana saja, menikmati peran sebagai seorang ibu dan istri yang baik misalnya. Bagiku saat ini, itulah peran paling sempurna yang bisa dilakukan seorang perempuan. Mendidik anak-anak agar kelak menjadi anak yang berbakti pada agama, nusa bangsa, sederhana yang juga membutuhkan pengorbanan.
Selain itu, menjadi perempuan dengan berpendidikan tinggi juga sangat penting. Meskipun pada akhirnya, peran perempuan tidak jauh dari status sebagai seorang istri atau ibu tetapi pada kenyataannya mendidik anak itu bukanlah perkara yang mudah. Butuh ilmu dan cara mendidik yang benar agar tidak salah langkah dalam mendidiknya.
Pada dasarnya perempuan yang dilahirkan di muka bumi ini, diharapkan menjadi perempuan yang sejati seutuhnya. Dengan berbagai peran dan status yang yang disandangnya, semoga perempuan Indonesia tetap bisa menginspirasi siapa saja. Di tengah zaman yang semakin serba menuntut ini, jangan pernah takut mencoba, berusaha dan bersuara. Karena, suara perempuan terlalu berharga untuk disimpan sendiri saja.
Dengan kehidupanku yang sekarang, aku semakin yakin pada kekuatan sebuah tekad, tekad yang kemudian memberikan dorongan untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Sebuah keputusan yang tadinya hanya berawal dari impian-impian. Namun, sebuah hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Impian-impian itu satu per satu telah berubah menjadi kenyataan.
Oleh : Andini
(Mahasiswa Pendidikan Sejarah, FIS-UNY)
Menjadi dewasa tidaklah mudah. Apalagi jika kamu adalah seorang perempuan. Banyak tantangan yang mungkin akan selalu kamu hadapi dalam setiap langkah pencapaian tujuan hidup. Banyak juga yang harus dijalani dan pikirkan dengan matang jika tidak ingin salah langkah. Berbagai peristiwa kerap mengajarkan menjadi manusia yang kuat karena banyak menghadapi pahit manis kehidupan. Apalagi setelah aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Bukan tanpa alasan keputusan itu, kekagumanku pada sosok Ibu Kartini yang sangat peduli akan perempuan dan pendidikan membuatku terinspirasi supaya kelak aku bisa sepertinya dengan menjadi sosok “Kartini Masa Kini” di tengah lingkungan yang masih belum terlalu terbuka perihal perempuan dengan pendidikan tinggi. Dan yang kutakutkan adalah statusku sebagai perempuan membuat langkahku harus sering bergumul dengan stigma-stigma negatif masyarakat yang seringkali memojokan.
Afifah, begitulah orang-orang memanggilku, nama sederhana pemberian bapak dan ibuku. Aku menjalani hidup sebagai anak desa biasa yang jauh dari kata sempurna. Aku sama seperti anak-anak lainnya, menghabiskan waktu untuk belajar, bermain, bersantai, membaca dan mengukir banyak asa dengan harapan suatu saat akan mampu meraihnya. Tumbuh dalam balutan kesederhanaan dan keterbatasan tak membuatku tidak berani untuk bermimpi yang tinggi. Meskipun bermimpi itu sebenarnya mudah tapi bukanlah sebuah mimpi jika kita berharap mudah untuk mendapatkannya, karena mewujudkan mimpi juga sangat membutuhkan perjuangan.
Yah, aku adalah seorang anak perempuan dengan banyak mimpi dan ambisi. Salah satu mimpiku yaiu kelak aku berharap menjadi seseorang yang menginspirasi. Aku anak tunggal yang terlahir dari orangtua berasal dari desa kecil yang hanya lulusan SMP, tapi kedua orangtuaku sangat sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka adalah orang paling hebat dalam hidupku. Mereka tak pernah berhenti bekerja keras untuk mencukupi kebutuhanku. Merekapun berharap aku mampu mengenyam pendidikan tinggi. Dan benar, meskipun dengan jalan tidak mudah saat ini aku sudah menjadi seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang sebentar lagi akan wisuda. Padahal dulu selepas lulus SMA, aku sempat ragu dan dilema apakah harus kuliah atau tidak. Aku sempat khawatir dengan biaya, akan tetapi dari informasi-informasi yang aku terima sudah banyak anak kurang mampu yang bisa melanjutkan kuliah dengan bantuan beasiswa penuh dari pemerintah. Aku mengutarakannya kepada bapak dan ibu, di luar ekspektasiku mereka ternyata sangat mendukung keputusanku sampai aku bisa mencicipi bangku kuliah dan hampir saja menyelesaikannya.
Tidak mudah sampai pada titik ini. Perjuangan tiada henti, kucuran keringat dan tangisan kesedihan pernah mewarnai hidupku sepanjang hari demi agar aku bisa melanjutkan kuliah, meskipun harus jatuh bangun untuk mendapatkan beasiswa. Bersyukur Allah selalu menyambut doa dan perjuangan kami sekeluarga. Setelah ribuan kesulitan yang kami hadapi, Tuhan senantiasa membalasnya dengan sesuatu yang tak pernah terkira. Itulah yang membuat kami tak pernah lupa dalam bersyukur bahkan untuk sekecil apapun kebahagiaan yang kami dapat hari ini, membuat kami selalu merasa bahwa Tuhan selalu ada bersama kami. Semua juga berkat bapak dan ibu yang selalu mendukungku, maka dari itu sudah saatnya aku ingin membuat mereka bangga.
Semua lantas tak membuat aku terlena. Bapak dan ibu masih selalu menasehati aku agar kelak menjadi perempuan hebat yang tak hanya berpendidikan tinggi tetapi juga mampu menginspirasi dan memotivasi orang lain. Aku paham mengapa mereka mengharapkan hal itu, akupun berpikiran sama. Setiap manusia pasti memiliki keinginan yang ingin diwujudkan, begitu juga denganku. Untuk mewujudkannya, pasti harus disertai usaha yang keras. Sayangnya masih banyak orang yang mematri pendapatnya bahwa meraih impian butuh modal materi yang besar. Anggapan inilah yang terkadang membuatku yang memang dari segi materi sangat kurang, menjadikan beberapa orang di sekitar memandangku dengan penuh keraguan.
Sebagai orang yang hidup di desa kecil, terkadang masih memandang berpendidikan tinggi tidak perlu menjadi sesuatu yang harus diprioritaskan. Bayang-bayang pendidikan tinggi itu mahal, pendidikan tinggi itu hanya mampu dilakukan orang-orang berada masih terpatri dalam benak masyarakat desa seperti kami. Apalagi bagi seorang perempuan. Aku masih sering mendengar pernyataan orang-orang yang mengatakan bahwa “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, kalau pada akhirnya hanya menjadi seorang istri yang kerjanya ya cuma di rumah mengurus anak, belum lagi biayanya. Apa tidak kasihan sama orangtua, kuliah paling cuma buat gaya-gayaan”. Tanggapan-tanggapan miring seperti itu memang masih sering terdengar dari lingkungan sekitarku. Tanggapan yang bukan seperti anggapan biasa namun memang sudah sangat mengakar. Mau dirubah juga tidak mudah, yang perlu dilakukan adalah sebuah pembuktian. Aku hanya ingin mewujudkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan tanpa mengenal latar belakang. Aku juga hanya ingin membahagiakan dan membanggakan bukan untuk gaya-gayaan seperti yang beberapa orang bilang.
Setelah berbagai pertimbanagan, tanpa ragu aku putuskan. Semua berawal dari harapan-harapan dan impian yang selalu kusemogakan kelak berbuah kenyataan. Berbekal tekad yang kuat dan dukungan dari orangtua, ternyata nasib baik memang selalu mengikuti orang yang kukuh akan pendiriannya. Tanpa memperdulikan lagi apa kata orang, aku memberanikan diri mengabil keputusan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Dan menyandang status baru sebagai seorang mahasiswa. Awalnya banyak hal yang harus kulakukan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Jika sebagian dari mahasiswa berstatus kaya, masa kuliah adalah ajang bergaya, hura-hura, shopping belanja, liburan, fashionable dan serba modis dalam berpenampilan berbeda sekali denganku yang tetap sederhana dan apa adanya. Terkadang memang sulit, mempertahankan kekokohan diri di tengah terpaan berbagai godaan. Jika pikiran-pikiran itu muncul dan menganggu, lekas aku menepisnya, karena sesungguhnya tujuanku hanyalah untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, bukan untuk hal yang lain.
Meski telah berjalan sejauh ini, langkah kehidupanku tak berjalan mulus begitu saja. Berbagai peristiwa-peristiwa tak terduga seringkali menghampiri, menimpa tanpa permisi. Salah satunya ketika aku kehilangan salah satu orang yang paling aku cintai, yaitu bapak. Di tengah kesibukanku di akhir-akhir masa kuliah sungguh ini sebuah cobaan datang tanpa terduga. Pada suatu hari aku mendapat kabar bahwa bapak telah tiada.
Dengan gontai aku melangkahkan kakiku kembali pulang. Rasanya sapaan alam hari itu terasa lain. Pekatnya pagi lebih menyerupai malam yang gelap. Begitupun saat sore menjelang ketika aku bersama rombongan orang-orang menghantarkan bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya. Guratan senja yang tak seperti biasanya, bak lukisan penuh nestapa disertai gerimis bak rintik kepedihan. Kulihat beberapa orang memandangku dengan pandangan yang tak biasa, sambil berbisik-bisik seperti ada hal yang mereka bicarakan tentang diriku. Rasanya ingin ku datangi mereka, ingin marah karena dalam keadaan seperti ini sungguh tidak menyenangkan apa yang mereka lakukan. Tapi ya sudahlah, bukankah dalam berbagai kesempatan aku sering menerima perlakukan demikian. Tapi yang membuat hatiku perih teriris adalah aku terbayang bagaimana wisudaku nanti tanpa ada bapak di sisi sebagai salah satu orang yang selalu menguatkanku selama ini. Ya Allah haruskah secepat ini, mampukah aku, kuat dan ikhlaskanlah hatiku jika Engkau memiliki rencana lain yang belum mampu kupahami.
“Kamu tidak boleh putus asa Nak, kamu anak bapak perempuan yang hebat, kerjar mimpimu sampai dapat.” begitulah kata-kata saat terakhirku bertemu bapak sebelum beliau pergi meninggalkan aku dan ibu untuk selamanya. Kata yang selalu terngiang sekaligus menjadi motivasi ampuh supaya aku terus berjuang mengejar asa dan cita-cita. Apapun akan aku lakukan untuk membuat bapak dan ibu bangga. Aku tidak mau sekalipun membuat mereka kecewa.
Malam ini aku duduk termenung sendiri di teras rumah sederhanaku. Rasanya aku kehilangan penyemangat sampai aku menjadi bingung ingin berbuat apa dan melakukan apa. Tiba-tiba beberapa meter dari pagar rumah sesosok perempuan muda yang tengah mengandung tua menghampiri aku yang tengah duduk sendiri. Aku yang masih melamun merenung tak sadar ketika ternyata ia sudah duduk di sampingku.
“Aku tahu Af yang kamu rasakan saat ini, aku pernah mengalaminya.” suara yang sepertinya tak asing lagi di telingaku. Aku menoleh, rupanya Fatma sahabatku semenjak masih bocah. Ya, kami dulu sering bersama dari masih bocah sampai akhirnya sama-sama lulus sekolah. Hanya saja saat ini aku lanjut kuliah sedangkan ia yang tidak kuasa menolak keinginan orangtuanya untuk segera menikah, membuat keadannya saat ini berbeda denganku. Padahal kami pernah bermimpi tentang banyak hal dan selalu memberi semangat satu sama lain untuk mewujudkanya. Sayang, mimpi ku dan mimpinya terhenti ketika ia tak lagi punya pilihan selain menuruti keinginan keras orangtuanya.
Fatma adalah salah satu potret perempuan yang memiliki banyak potensi tetapi beberapa faktor menghambatnya untuk mewujudkan mimpi. Yah mau bagaimana lagi, untuk ukuran orang desa seperti kami terkadang belum memiliki cara berpikir progresif, masih kolot dan belum mau terbuka pada hal-hal baru sesuai perkembangan zaman yang semakin modern.
Malam itu aku dan Fatma banyak sekali bercerita dan bernostalgia, mengingat kembali masa-masa ketika hidup hanya tentang bermain, sekolah, mengerjakan PR, dan banyak hal yang lumrah dilakukan anak kecil. Ternyata kehadirannya bisa sedikit mengembalikan secercah kebahagiaan melalui ingatan masa lalu. Kulihat perut Fatma yang ternyata sudah begitu besar.
“Jadi, sudah berapa bulan kandunganmu Fat?” tanyaku
“36 minggu Af, ya mungkin masih menunggu 2 atau 3 minggu lagi.” Fatma sempat terdiam lalu kemudian berkata lagi, “Beruntung kamu ya Af, sebentar lagi jadi sarjana, aku pernah bermimpi sepertimu tapi sayangnya nasib tidak memihakku sampai akhirnya aku malah jadi seperti ini.”
“Astagfirullah, kamu jangan bicara begitu Fat, kamu juga seharusnya bersyukur sebentar lagi kamu akan menjadi ibu. Kamu tahu Fat, menjadi seorang ibu adalah anugerah seorang perempuan, menjadi ibu adalah sebuah kesempurnaan bagi perempuan, hadiah terbaik dalam hidup yang diberikan Tuhan. Bersyukurlah Fat, mungkin aku malah belum tentu bisa menjadi sepertimu, karena umur manusia itu ya siapa yang tahu. Seperti bapak misalnya, siapa sangka bapak akan pergi begitu cepat tanpa sempat aku membahagiakannya.” kataku sambil menunduk penuh kesedihan.
“Kamu benar Af, aku bangga sama kamu, terkadang aku begitu salut dengan pola pikirmu, kamu benar-benar perempuan yang hebat. Kuharap akan ada banyak perempuan sepertimu di desa kita ini, perempuan dengan pola pikir sepertimu akan membuat sebuah negeri maju karena mampu menginspirasi yang lain”
“Ahhh kamu berlebihan Fat.” kami tersenyum bersama sampai tak terasa malam sudah larut.
“Astaga Af, sudah malam ternyata aku harus pulang takut Mas Anto khawatir, soalnya tadi aku pamitnya cuma ke warung sebentar, tapi karena tadi aku liat kamu sendirian aku jadi tidak tega makanya aku samper. Yasudah ya Af, aku pulang dulu.”
“Cieee enak deh ya ada yang khawatirin.” tawa kami kembali lepas, dan Fatmapun melangkah pergi, aku memandangnya sampai tak terlihat lagi.
Selepas Fatma pergi aku masuk ke dalam rumah. Ku ambil laptop yang sudah hampir 4 tahun ini menemaniku menyelesaikan segala urusan tugas kuliahku. Sedikit cerita, untuk membelinya saja dulu butuh perjuangan sekali, bapak sampai harus menjual beberapa kambing peliharaan kami. Padahal bagi orang desa seperti kami, hewan peliharaan merupakan aset yang sangat berharga. Meskipun saat aku dibelikan oleh bapak laptop ini sudah tidak dalam keadaan yang baru, tapi dari awal kuliah sampai sekarang menjelang selesai kuliahku laptop ini tetap setia dan selalu dalam keadaan baik-baik saja. Yah, mau bagaimana lagi, tekad untuk tetap melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, ditambah dukungan dari ibu dan bapak seringkali membuat kami harus banyak berkorban dan bekerja lebih keras lagi. Sayangnya, saat ini raga bapak sudah tidak ada lagi di sisi, tapi doaku selalu kupanjatkan kepada Allah supaya bapak senantiasa bahagia di surga. Ah, aku jadi bernostalgia. Kulihat wajah ibu yang tertidur lelap, wajahnya penuh kelelahan dan kesedihan. Tapi di depanku ia selalu terlihat tegar. Ibulah yang menjadi penyemangatku satu-satunya saat ini. Aku kumpulkan kembali semangatku yang terkadang hilang dan hancur berkeping-keping, memantapkan segala niat untuk mengejarkan tugas akhirku yang akan selesai sebentar lagi. Karena aku ingin segera lulus, memasuki babak baru kehidupan dan mewujudkan impian-impianku. Demi ibu, perempuan hebatku.
Berbagai dinamika, cerita serta drama-drama mahasiswa akhir yang selalu dibayangi tugas akhir dan skripsi satu per satu hampir selesai sudah. 6 bulan setelah berkutat dan berlelah-lelah dengan skripsi dan tugas akhir. Legalah hatiku ketika tali toga itu berpindah dari kiri ke kanan. Tangis ibu pecah kala menyambutku turun dari podium wisuda. Di tengah wisudawan lawan lain yang merayaka kebahagian ini dengan keluarga besarnya, kami hanya berdua saja. Ya, diantara mereka kami hanya dua perempuan dengan balutan busana yang bersahaja. Tidak adanya bapak di sisi kami terkadang sering menyisakan rasa pilu tersendiri. Tapi aku dan ibu selalu berharap bapak juga turut bahagia melihat kebahagiaan kami hari ini. Yang terpikirkan kini adalah apa yang bisa aku lakukan di masa mendatang setelah aku benar-benar lulus sebagai seorang sarjana dalam bidang ilmu psikologi. Sebenarnya peluang dan kesempatan kerja sangatlah banyak serta tak terbatas. Hanya saja aku ingin menjadi yang berbeda. Sebagai seorang perempuan di zaman modern seperti sekarang ini, sudah seharusnya perempuan bisa tampil dengan peran yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman yang sibuin meningkat.
Aku mengajukan lamaran di beberapa lowongan pekerjaan seperti staff HRD suatu perusahaan dan guru BK di beberapa sekolah. Sambil menunggu pengumuman diterima atau tidaknya, kumanfaatkan waktuku untuk menulis. Aku senang menuliskan banyak hal, aku berharap suatu saat tulisanku akan menjadi sebuah buku karya yang bermanfaat. Selain itu aku juga menerjemahkan buku-buku psikologi berbahasa asing, ini sangatlah menarik. Dari sini sedikit demi sedikit aku mampu mengumpulkan uang guna bertahan hidup untuk diriku sendiri dan sedikit menyisihkan uang untuk kebutuhan ibu. Selain itu aku juga sering diminta untuk memberikan les secara privat kepada anak-anak SD, SMP, dan SMA, mengajar anak-anak mengaji di masjid dan masih banyak lagi. Semua aku lakukan selama itu menghasilkan yang halal dan baik, dan aku sangatlah senang. Bahkan hidupku jauh dari kata bosan, kunikmati tiap detiknya meski banyak keterbatasan.
Aku senang sekali membaca berita. Setiap hari aku ada saja yang kubaca, entah itu berita online maupun berita dari koran atau tabloid. Seringkali ketika membaca berita khususnya anak muda, hatiku membatin penuh keheranan dengan berbagai tingkah anak muda jaman sekarang, terkhusus kaum perempuan. Media sosial dari hari ke hari hanya dipenuhi galauan ria tentang apalagi kalau bukan masalah cinta dan romansa. Padahal sebagai remaja memiliki tugas perkembangan diantaranya adalah melakukan perencanaan karir dan berperan dalam lingkungan sosial. Dari sini aku mulai berpikir dengan ilmu yang aku dapatkan selama kuliah bisa aku gunakan untuk berbagi agar memberikan dampak positif kepada ligkungan sekitar, kepada anak-anak muda untuk selalu semangat meraih cita-cita.
Aku teringat, semasa awal kuliah aku sempat berkenalan dengan Mbak Nadiya salah satu dosen muda dimana mahasiswanya lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Mbak. Selain dosen ia juga seorang motivator untuk anak-anak didiknya yang sebagian besar adalah mahasiswa perempuan. Akupun menjadi salah satu anak bimbingannya. Mbak Nadiya sangat dekat dengan anak-anak didiknya. Dalam forum ini, kami sering berdiskusi banyak hal tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan, bagaimana memainkan peran sebagai seorang perempuan dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, tentang mimpi, cita-cita dan harapan, dan masih banyak lagi.
Selain memberikan motivasi kepada mahasiswa, Mbak Nadiya juga sering diundang dalam berbagai kesempatan acara motivasi kepada anak-anak sekolah, ibu-ibu muda, perempuan-perempuan desa dan masih banyak lagi. Ia juga banyak menulis banyak buku khususnya tentang perempuan dan perannya di zaman sekarang. Pembawaannya yang lembut, ramah dan sopan membuatnya mendapat tempat di hati banyak orang. Aku banyak belajar darinya, bagiku dialah potret perempuan modern yang tidak hanya cerdas tapi juga menginspirasi. Dialah sosok “Kartini Masa Kini” dengan banyak peran yang disandangnya, sebagai seorang ibu, istri, dosen, dan motivator yang sering diundang kesana kemari. Semua dilakoninya dengan begitu seimbang.
Suatu ketika, Mbak Nadiya mengirimkan pesan kepadaku. Ia mengabarkan bahwa ia sedang sakit, padahal ia harus mengisi sebuah seminar motivasi kepada siswa-siswi SMA di sebuah sekolah. Yang membuat aku terkejut adalah, ia memintaku menggantikannya. Dengan sedikit bimbang karena merasa tidak enak hati dan belum mumpuni, akupun mau menerima tawaran itu dan berjanji akan melaksanakan amanah itu tanpa ragu. Dan ternyata ini menjadi awal langkahku selanjutnya.
Tibalah aku di panggung pertamaku, dimana aku harus berhadapan dengan puluhan orang yang belum ku kenal sama sekali sebelumnya. Kutarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara, tentang semua yang pernah kurasakan dan kualami. Aku melihat wajah-wajah polos di depan mataku ini adalah gambaran masa depan cerah bangsa ini kelak.
“Jangan berpikir hanya karena kita masih muda, kita tidak bisa melakukan sesuatu lalu berhenti untuk melangkah maju. Bercita-citalah yang tinggi selama masih sanggup bermimpi, karena itu adalah keindahan berpikir manusia. Lakukan segala sesuatu yang ingin kau lakukan, karena disitulah letak sebuah kekuatan. Yakinkan diirmu menguji batas keyakinan, karena disitulah keberanian untuk menjemput kesuksesan.” Kira-kira begitulah pesan yang sering kusampaikan kepada anak-anak muda masa kini yang kutemui.
Yah, selesai sudah semua berjalan lancar tanpa halangan. Lama-kelamaan akupun merasakan kenyamanan. Nyaman dengan yang aku lakukan sekarang. Melihat seseorang yang awalnya sudah putus asa dengan dirinya sendiri kembali bersemangat menggapai mimpi adalah hal yang sangat menyenangkan. Semua ini semata-mata kulakukan bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk memperbaiki para generasi supaya kelak mampu memajukan bangsa ini.
Dua tahun sudah aku menikmati pekerjaanku sebagai seorang motivator yang sering mengisi acara kesana-kemari dan juga sebagai seorang guru Bimbingan dan Konseling di salah satu sekolah menengah atas. Kebetulan saat itu lamaranku sebagai guru BK ternyata diterima. Hal itu tak lantas membuatku nyaman terus menerus berada di kota yang jauh dari desa. Setelah waktunya ku rasa tepat, aku ingin kembali pulang dan berencana menetap kembali di desa. Karena aku merasa ada banyak hal yang bisa kulakukan di sana. Aku juga memutuskan untuk pindah mengajar di sekolah pedesaan. Ku harap aku bisa diterima.
Di sana nanti aku sudah memiliki banyak rencana yang akan aku lakukan. Sesampainya di desa tempat kelahiranku itu, aku memulai membuat kegiatan yang meskipun dalam taraf yang kecil bisa melibatkan anak-anak muda sehingga dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki serta semangat melakukan kebaikan. Aku mengajak mereka melakukan berbagai hal yang tentunya bermanfaat seperti pengolahan sampah, pengajian dan kajian rutin, menanam berbagai macam tanaman sayuran, toga dan masih banyak lagi. Tak jarang pula aku dijadikan teman curhat saat mereka menghadapi beberapa masalah dalam keluarga maupun pembelajaran di sekolah. Dan hal itu sedikit demi sedikit mengembalikan tempat ku sebagai salah satu bagian dari orang-orang di desaku yang dulu sempat hilang. Mereka yang dulu mengatakan aku orang sombong, gengsian atau apalah itu mulai hilang dan terlupakan. Kini aku hadir dengan wajah dan peran yang berbeda dan bersyukur mereka mampu menerimaku. Aku juga diterima kembali menjadi seorang guru BK salah satu sekolah negeri di desaku, meskipun tidak tetap dan dengan tempat dan gaji yang lebih kecil dibanding ketika aku masih mengajar di kota tapi tak masalah. Karena aku mencintai profesiku bukan sekedar karena imbalan tapi ada niat yang lebih besar yaitu untuk beramal dan membantu sesama. Sesekali aku juga masih sering ke kota jika ada undangan untuk mengisi berbagai acara motivasi. Karena di sana aku mendapat kepercayaan di beberapa lembaga jika sewaktu-waktu diminta menjadi pembicara mengisi sebuah acara. Semua itu berkat Mbak Nadiya, yang selalu mengajariku banyak hal tentang ini. Dia yang memang sudah memiliki banyak jaringan dan relasi sering merekomendasikan diriku. Berkat jasanya, aku merasa memiliki dunia baru dan semakin luas pula pengetahuanku.
Bisa dikatakan aku terlalu menikmati kehidupanku yang sekarang. Kadang aku seringkali merasa hidupku ternyata sunyi, meskipun masih ada ibu yang selalu ada di sisiku sampai saat ini di kala usianya yang semakin menua, ternyata memang ada sesuatu hal yang kulupakan. Sampai akhirnya aku dan ibu terlibat dalam sebuah percakapan yang agak serius.
“Ibu sudah sangat bahagia melihatmu seperti sekarang ini, tapi apakah kamu akan terus menerus seperti ini?”
“Maksud ibu? Aku bahagia kok Bu, menjalani kehidupanku yang sekarang. Aku senang bisa hadir kembali diantara orang-orang di desa ini, mengajak melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Aku senang menikmati pekerjaanku sebagai seorang guru. Aku juga tidak lelah Bu, meskipun terkadang banyak undangan pekerjaan dari kota sehingga aku harus bolak-balik desa kota, aku sangat menikmatinya.” kataku sambil memeluk ibu dengan manja, ibu hanya tersenyum melihatnya.
“Ibu tahu, tapi bukan itu maksud ibu Nak, kamu sudah dewasa sebagai seorang perempuan. Apa kamu tidak mau segera menikah, usiamu sudah tepat untuk hal itu.” Sore itu kami terlibat dalam sebuah dialog agak panjang. Untung saja aku sudah memikirkan jawaban yang tepat ketika kapan saja ibu menanyakan hal itu kepadaku. Dan kubiarkan hari hari terus berganti seperti biasanya dengan berbagai aktivitasku. Tanpa terasa hitungan hari telah berubah menjadi hitungan tahun, aku kembali memasuki babak baru sebuah kehidupan dengan peran yang semakin bertambah.
“Perempuan seringkali dipandang sebagai manusia lemah yang harus dilindungi, hal itu membuat sebagaian perempuan bersembunyi di balik kata lemah. Berlindung pada konteks ketidakmampuan fisik yang memang pada kenyataannya tak sekuat kaum laki-laki. Memang, realitanya sebagai perempuan seringkali mengutamakan perasaan dibanding logika., bukan berarti menjadi perempuan adalah makhluk yang manja. Apalagi di tengah zaman emansipasi yang serba modern ini. Menjadi perempuan dengan pendidikan tinggi tidaklah salah, karena menjadi perempuan masa kini haruslah cerdas untuk menghadapi berbagai macam tuntutan perkembangan zaman.”
Sepenggal paragraf yang kubaca dari sebuah tabloid berita dimana aku sendiri yang menjadi narasumber ketika tabloid itu diterbitkan beberapa waktu yang lalu. Tidak disangka ada wartawan yang kala itu menyambagiku, memintaku menjadi narasumber dalam tabloid yang akan mereka terbitkan dengan tema peringatan hari kartini. Mereka yang menganggap aku salah satu perempuan masa kini yang berperan dalam kemajuan sebuah daerah yang tidak lain adalah desaku. Alhamdulillah, satu lagi impianku telah tercapai.
Kuseduh kembali secangkir teh sembari menikmati sejuknya embun pagi. Sampai detik ini aku masih berjuang, langkahku tak akan pernah padam membuat kebaikan, membuktikan kepada dunia kalau perempuan itu mampu membuat banyak perubahan, dalam peran sebagai apapun. Melalui tulisan, perkataan, tindakan dan melalui apapun itu agar pemikiranku dapat tersalurkan, meskipun sekarang aku sudah berganti peran tidak seperti dulu lagi.
“Bunda, Alila berangkat sekolah dulu ya.” Gadis kecil itu mencium tanganku dan ku balas dengan kecupan penuh cinta di keningnya. Ia adalah Alila, putri kecilku, yang kehadirannya membuatku merasa semakin sempurna sebagai seorang perempuan, tentunya karena kehadirannya kini aku bisa merasakan nikmat sebagai seorang ibu. Dari belakang seorang laki-laki dengan pakaian jas rapi mengikuti Alila sambil menggandeng tangan kecilnya.
“Kami berangkat dulu ya Bunda.” ucapnya kepadaku. Kucium tangannya dan ia pun mengecup balas keningku seperti yang kulakukan pada Alila. Laki-laki yang bernama Yusuf itu dulu aku mengenalnya tanpa sengaja ketika aku mengisi sebuah acara motivasi sekitar 7 tahun yang lalu. Siapa sangka juga dia akan menjadi pendamping dalam hidupku, dia pulalah yang kini membuatku semakin sempurna sebagai seorang perempuan yaitu dengan menjadi seorang istri.
Begitulah ketika jodoh sudah digariskan dalam sebuah takdir, maka siapapun tak kan pernah menduga. Inilah hidupku sekarang yang berwarna, berbagai dinamika dan banyak hal tak terduga yang kujumpa.
Aku sadar, menjadi perempuan hebat tidak selalu harus menjadi orang yang dikenal banyak orang. Tapi sederhana saja, menikmati peran sebagai seorang ibu dan istri yang baik misalnya. Bagiku saat ini, itulah peran paling sempurna yang bisa dilakukan seorang perempuan. Mendidik anak-anak agar kelak menjadi anak yang berbakti pada agama, nusa bangsa, sederhana yang juga membutuhkan pengorbanan.
Selain itu, menjadi perempuan dengan berpendidikan tinggi juga sangat penting. Meskipun pada akhirnya, peran perempuan tidak jauh dari status sebagai seorang istri atau ibu tetapi pada kenyataannya mendidik anak itu bukanlah perkara yang mudah. Butuh ilmu dan cara mendidik yang benar agar tidak salah langkah dalam mendidiknya.
Pada dasarnya perempuan yang dilahirkan di muka bumi ini, diharapkan menjadi perempuan yang sejati seutuhnya. Dengan berbagai peran dan status yang yang disandangnya, semoga perempuan Indonesia tetap bisa menginspirasi siapa saja. Di tengah zaman yang semakin serba menuntut ini, jangan pernah takut mencoba, berusaha dan bersuara. Karena, suara perempuan terlalu berharga untuk disimpan sendiri saja.
Dengan kehidupanku yang sekarang, aku semakin yakin pada kekuatan sebuah tekad, tekad yang kemudian memberikan dorongan untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Sebuah keputusan yang tadinya hanya berawal dari impian-impian. Namun, sebuah hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Impian-impian itu satu per satu telah berubah menjadi kenyataan.
Komentar
Posting Komentar